Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jangan Mendekati Zina

Nafsu syahwat merupakan senjata syetan yang paling kuat atas diri manusia, yang apabila nafsu syahwat tersebut telah menguasai diri manusia, maka ia dapat membuat manusia tersebut condong kepadanya. Seorang bijak berkata “barang siapa yang jatuh dalam satu lubang dari urusan dunia, niscaya ia jatuh dari lubang itu”. Sedangkan menuruti nafsu syahwat perut dan farji (kemaluan) adalah termasuk dari bagian-bagian dunia.


      Lalu apa yang menjadi permulaan zina?. Dikisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Yahya As. “apa dari permulaan zina?”, Nabi menjawab “memandang dan berangan-angan”. Jadi, seseorang yang mampu menundukkan pandangannya, maka ia mampu pula menjaga pikiran, hati serta kemaluannya. Memandang merupakan dosa kecil yang apabila dituruti ia dapat membawa pada dosa besar yaitu zina farji (kemaluan).
      Allah Swt. jelas-jelas telah melarang berbuat zina dalam sabda-Nya :
dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang teramat buruk” (Q.S. Al-Isra’ : 32)
“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Mu’minuun : 5-7)
      Rosulullah SAW bersabda :
“Tujuh orang yang dilindungi oleh Allah pada hari kiamat dalam lindungan ‘arasy-Nya pada hari itu tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya. dan terhitung termasuk mereka, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang cantik dan mempunyai kedudukan kepada dirinya, lalu laki-laki itu berkata : “sesungguhnya saya takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (muttafaq ‘alaih dari hadits Abu Hurairah)
      Diriwayatkan pula bahwa seorang pemuda mendatangi Rosulullah saw. lalu ia bertanya, “ wahai Rosulullah, maukah engkau memberikanku izin untuk berzina”, mendengar pernyataan pemuda tersebut, para sahabat marah karena pemuda tersebut telah berani bertanya hal demikian kepada Nabi. Nabi lalu berkata, “biarkan ia! Ke marilah kamu!”. Pemuda itu pun mendekati Nabi. “Engkau senang kalau hal itu terjadi pada ibumu?”, Tanya Nabi. “tidak, demi Tuhan”. “demikian pula orang lain, mereka juga tidak senang bila hal itu terjadi pada ibu mereka”, “akankah engkau senang hal itu terjadi pada anak gadismu?”. “juga tidak”. “demikan pula orang lain, tidak senang hal itu terjadi pada anak gadis mereka”. Setelah terjadi dialog tersebut dengan Nabi mencontohkan kepada perenpuan-perenpuan yang paling dekat dengan pemuda tersebut, lalu kemudian Nabi meletakkan tangan di dada si pemuda seraya berdo’a “ ya Allah, bersihkanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya!”. Sejak saat itu, tidak ada yang lebih debencinya daripada perbuatan zina. (Al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir : 7.679 dan dari Abu Umamah : 7.759, nas tersebut juga diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, III h.86).
      Islam sangat menjaga terhadap kesucian seseorang, baik itu lahir maupun batin. Itulah mengapa dalam bab-bab fiqih yang diejelaskan pertama kali adalah bab thaharah, agar penganutnya senantiasa menjaga kesucian baik lahir maupun batin. Zina termasuk dosa besar yang dapat melenyapkan kehormatan dan menyebabkan kemurkaan Allah. adapun pandangan adalah permulaan zina yang menjaganya itu penting dan sulit, terkadang diremehkan tanpa adanya rasa takut padahal banyak bencana yang timbul daripadanya.
      Sesungguhnya wajib mencegah diri dari perbuatan zina dengan meninggalkan memandanng dan berangan-angan dan lain-lain yang dapat menimbulkan hasrat untuk melakukan perbuatan zina. Kalau tidak, sehingga akal menjadi tunduk pada nafsu syahwat, maka menjadi sulit menolaknya dan thabiat menuntut pengulangan kembali. Dalam hal ini maka menjadi lebih sulit untuk mengobatinya.
      Lukman menasehati anaknya, “anakku, jauhilah dari berbuat zina, sebab awalnya adalah kecemasan, akhirnya penyesalan dan setelah itu azab”. Menururti hawa nafsu hanya akan memperoleh kesenangan yang bersifat semu yang pada akhirnya mengakibatkan penyesalan serta menjauhkan hubungan kita dari-Nya. Kebahagiaan dan ketenangan pada hakikatnya akan kita raih apabila kita memutuskan nafsu syahwat dan mengendalikan diri dari sifat-sifat tercela, kemudian menghadapkan diri pada mujahadah (bersungguh-sungguh menentang hawa nafsu). Seorang bijak berkata, “orang bodoh adalah orang yang menambah keperluan-keperluan dan menuruti nafsu syahwatnya, sedang ia tidak mengerti bahwa ia memperbanyak sebab-sebab kesedihan dan kesusahan”.
      Di dalam ayat yang telah di tulis di atas memerintahkan kita agar jangan mendekati zina seperti memandang lawan jenis yang dapat menanamkan syahwat di hati, berdua-duaan dengan lawan jenis dan lain-lain yang dapat mendorong kita kepada perbuatan zina. Sebab bila kita terlalu menuruti hawa nafsu maka kita akan terjebak dalam situasi yang kita sulit keluar darinya.
kelezatan hawa nafsu yang sudah bersarang di kalbu merupakan penyakit kronis” (Al-Hikam, Ibn “Athaillah).
      Awal kita tercipta adalah dalam keadaan suci, lalu untuk apa kita lumuri diri dengan dosa-dosa yang dapat merusak hubungan kita dengan-Nya, di mana rasa cinta untuk diri sendiri?. Apabila kita menuruti nafsu syahwat, maka kita ibarat orang yang berjuang menggapai kebahagiaan “sesaat” untuk penderitaan “seabad”. Surga memang dikelilingi oleh tabir duniawi yang menyesatkan, godaan keindahannya yang pada hakikatnya hanyalah kesenangan semu belaka dapat membuat kita melupakan kenikmatan surgawi yang tiada tara. Dalam hal ini, hendaknya kita menanamkan rasa takut kepada-Nya sebagai pukulan dahsyat bagi syahwat dan mengisi waktu dengan segala amal taat dan segala hal yang bermanfaat serta menyibukkan diri dengan hal-hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya. 
 
 
 
sumber : http://pustakafirdausy.blogspot.com
 

Awali Dengan Basmallah

Sering kali kita lupa membaca basmallah ketika memulai kegiatan. Ketika akan makan, kita lupa mengucap basmallah, ketika bekerja kita khilaf untuk mengucapkan kata itu, dan ketika tidur, kita langsung terlelap melupakan kalimat tersebut.Padahal, basmallah adalah kata yang sangat dianjurkan dalam Islam untuk selalu digunakan bila kita hendak berkegiatan. Mengapa demikian?

Mengapa Basmallah

“Bismillaahirohmaanirohiim”
Kata yang hanya terdiri dari satu kalimat, yang sebenarnya ketika diucapkan ada desisan panjang di setiap tengah hurufnya. Arti basmallah sendiri adalah “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”.
Artinya saja sudah dengan menyebut nama Allah. Itu mengindikasikan bahwa pengucapan kata Bismillah berarti menguatkan bahwa apa pun kegiatan yang dilakukan harus dimulai dengan mengingat asma Allah. Namun, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh ingat dengan penggunaan kata Bismillah.

Padahal, kata Bismillah mengandung penyerahan diri kita pada Sang Khalik yang menciptakan diri kita. Mengucapkan basmallah akan mendatangkan kebaikan terhadap sesuatu yang sedang kita kerjakan. Karena dengan penyerahan diri inilah, maka Sang Khalik yang akan menjaga kita. Dengan mengucap basmallah, maka sesuatu yang kita kerjakan biasanya akan jauh lebih mudah. Hal ini sebagai salah satu pertanda bahwa keberkahan menyertai pekerjaan kita.

Atau sebaliknya ketika kita lupa membaca basmallah saat akan melakukan suatu pekerjaan, terkadang pekerjaan itu tersa berat, sulit dikerjakan, bahkan kadang menemui titik buntu. Dan saat-saat mengalami kebuntuan itu, kita baru ingat sama Allah, kemudian minta pertolongan. Padahal bisa jadi, saat kita mengawalinya dengan basmallah, setiap yang kita kerjakan akan membawa pertolongan Allah. Sehingga tidak sampai mengalami kebuntuan.

Hanya yang Baik-Baik Saja

Mengucap  basmallah diwajibkan bagi insan yang hendak beraktivitas. Tentu saja dengan niat yang baik. Misal, kita hendak melakukan pekerjaan, diawali dengan mengucapkan basmallah. Pengucapan tersebut menguatkan niat dan ucapan yang baik, yang berujung pada hasil yang baik pula, ditambah bonus pahala. Betapa mudah bukan, mengumpulkan pahala di muka bumi ini.

Namun, jangan coba-coba mengucapkan basmallah untuk kegiatan yang buruk, misalnya mencuri atau berzinah. Hal yang mudarat dan sia-sia, juga pekerjaan yang mengundang dosa, rasanya tidak patut bila kita menggunakan asma Allah sebagai pemulainya. Seolah-olah ketika kita mengucapkan hal tersebut saat melakukan kegiatan kemungkaran, kita meremehkan Allah.

Mengucapkan basmallah dalam kegiatan yang jahat hanya mengundang bencana, tidak akan ada pahala malah menumpuk dosa. Jadi, jangan coba-coba mengucapkan basmallah ketika Anda berbuat dosa, tidak ada efeknya. Tapi mungkin dapat membuat Anda berpikir ulang untuk tidak melakukan kegiatan kemungkaran.

Mulailah Sekarang Mengucap Basmallah

Mengucapkan basmallah untuk kegiatan sehari-hari tidaklah sia-sia, malah mendapatkan berkah. Semua kegiatan yang kita lakukan, dari mulai makan, bepergian, bekerja, bahkan sampai masuk ke dalam kamar mandi dan terlelap tidur harus diawali dengan kata-kata yang baik.

Mengingat Allah-lah yang terbaik dan pengucapan sebaik-baiknya pengucapan adalah basmallah. Jadi, kalau Anda ingin semua yang dilakukan menjadi barokah, mulailah dengan mengucapkan “Bismillaahirohmaanirohhiim”  Anda tidak akan pernah merasa sia-sia mengucapkannya.

Meskipun ringan ketika diucapkan, namun dalam prakteknya terkadang berat. Sehingga perlu dilatih secara intens atau istiqomah. Bisa dimulai dari hal yang sederhana saja. Misalkan makan. Usahakan setiap akan memakan apapun, mulailah dengan mengucap basmallah. Terkadang kita khilaf ketika akan makan makanan kecil, semacam snack, kue kecil, atau makanan ringan lainnya, kita lupa memulai makannya dengan basmallah.Atau hal-hal kecil lainnya yang dinilai bukan sebagai ibadah pokok, kita sering sekali lupa memulainya dengan basmallah. Padahal basmallah merupakan dzikir yang sangat istimewa, karena ringan diucapkan tapi besar sekali manfaatnya.

Apa Saja Manfaat Basmallah?

Manfaat membaca basmallah sangat besar, selain mendapatkan pahala, juga mengandung banyak keutamaan-keutamaan yang besar. Diantara keutamaan itu adalah sebagai berikut:

1. Terlindung Dari Kejahatan Setan

Manfaat ini mungkin manfaat terbesar selain manfaat yang lainnya. Dengan mengawali setiap perbuatan dengan basmallah, maka kita bisa terbebas dari gangguan setan yang jahat. Sebagaimana sebuah hadist nabi yang isinya kurang lebih: “apabila kita hendak masuk rumah dan akan makan dengan mengucapkan basmallah, maka setan tidak bisa masuk rumah kita dan ikut makan.  Sebaliknya jika kita lupa baca basmallah, maka setan akan ikut masuk rumah dan ikut makan makanan yang kita konsumsi”.
Sehingga para ulama mengatakan, dua hal itu, ketika akan masuk rumah dan akan makan, disunnahkan untuk mengingat Allah dengan membaca basmallaah. Dengan begitu, rumah kita aman dari gangguan setan, dan makanan yang kita konsumsi menjadi berkah. Dengan mengucapkan basmallah dalam setiap awal perbuatan, maka setan tidak mampu untuk mengganggu kita.

2. Mendapatkan Keberkahan

Sebagaimana hadist nabi yang artinya: “setiap amalan yang tidak diawali dengan membaca basmallah, maka amalan tersebut tidak diterima dan kurang keberkahannya”. Jadi dengan mengucap basmallaah maka pekerjaan yang kita lakukan akan mendapatkan tambahan keberkahan dari Allah.
Sebagai gambarannya, misalnya ketika kita akan menulis sebuah artikel dengan mengawalinya membaca basmallah dan berdo’a, bisa jadi dalam pengerjaannya itu bisa lebih mudah. Ide-ide yang ada di kepala kita ketika menulis, bisa dengan mudah mengalir, tidak mengalami kebuntuan pikiran.
Ide-ide yang terus mengalir ini, bisa jadi sebagai bentuk pertolongan Allah. Kemudian setelah artikel jadi, dan banyak dibaca orang, kemudian pembaca terinspirasi oleh tulisan kita untuk melakukan hal yang baik, bisa jadi itu adalah tambahan keberkahan atas amalan kita.

3. Amalan Kita Diterima Allah SWT

Salah satu syarat diterimanya suatu amal ibadah adalah di awali dengan niat. Dan niat itu sendiri umumnya diwujudkan dengan mengucapkan basmallah. Jadi, dengan mengawali suatu ibadah dengan membaca basmallah, minimal kita sudah mendapatkan tiket untuk diterimanya ibadah kita oleh Allaah SWT.
Sebagaimana hadist yang diterangkan di atas, yaitu jika amalan ibadah tidak diawali dengan membaca basmallah, maka amalan itu terputus, artinya tidak diterima oleh Allah SWT. Sungguh, hal ini sangat menentukan sekali.
Bisa dibayangkan misalnya kita lupa tidak mengawali suatu amalan dengan membaca basmallaah, maka hal itu sia-sia di hadapan Allah. Rugi sekali kita bukan? Padahal kita sudah keluarkan banyak tenaga, tapi malah tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Yang didapatkan hanya capeknya saja.

4. Mendapatkan Jaminan Pertolongan Allah

Dengan diterimanya suatu amalan kita oleh Allah, maka hal itu adalah sebagai gerbang masuk atas datangnya pertolongan Allah untuk suatu pekerjaan yang kita lakukan. Dengan mengucapkan basmallah, maka para malaikat yang mendengarnya, ikut serta mendo’akan kita.

Ketika kita mengalami kebuntuan pikiran saat melakukan pekerjaan, terkadang secara tak terduga, kita mendapatkan ide-ide segar yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Rencana-rencana  yang sudah kita susun, terkadang tidak berguna, digantikan oleh ide segar yang tiba-tiba saja datang.
Bagi orang yang tanggap dan cepat mengambil keputusan, hal ini adalah yang terbaik yang bisa diambil. Demikian ini tidak lain adalah wujud balasan Allah terhadap amalan yang kita awali dengan berserah diri kepada-Nya. Ibaratnya, jaminan pertolongan Allah itu, kita beli dengan mengucapkan basmallah di saat memulai pekerjaan kita.

Hal ini berbeda ketika kita khilaf, tidak memulai pekerjaan dengan mengucapkan basmallah, maka kita tidak mendapatkan jaminan pertolongan dari Allah. Dan karena tidak ada jaminan, maka umumnya yang terjadi adalah sebaliknya. Saat mengalami kebuntuan, tidak ada ide-ide segar yang muncul. Justru yang dialami adalah stress, sehingga pekerjaan kita mengalami kegagalan.

Di saat merasa gagal ini, kemudian kita teringat atas kekhilafan kita, kita lalu memohon pertolongan Allah. Tentu saja alurnya berbeda antara jaminan pertolongan dari Allah, dengan permohonan do’a kita. Karena jaminan bersifat pasti, tanpa kita minta pun, hal itu akan kita dapatkan. Sebaliknya dengan do’a permohonan pertolongan, belum tentu Allah membalas do’anya dengan hal yang sesuai apa yang kita mohonkan.
Disinilah pentingnya kita selalu mengucapkan basmallah dalam setiap memulai suatu amalan, apa pun amalan kita itu. Baik amalan ibadah ritual, maupun amalan ibadah yang lain. Atau pun pekerjaan-pekerjaan yang bersifat ringan, tetap harus kita awali dengan membaca basmallah.

Demikianlah pentingnya mengucap basmallah dalam setiap perbuatan. Dan untuk menjadikan hal ini sebagi sebuah karakter, perlu dilakukan pembiasaan setiap hari. Bisa dimulai dari hal terkecil, kemudian meningkat ke amalan-amalan yang bersifat pokok. Jadi, bagaimana? Sudahkan Anda memulainya hari ini?

sumber : anneahira.com
 

Menampakan dan Menyembunyikan Amalan

Upaya meningkatkan iman dan takwa (kualitas amalan) seorang hamba, selain membuahkan keikhlasan yang murni, lurusnya niat dan tujuan, baiknya keIslaman dalam diri seorang hamba, juga sikap menyembunyikan amal. Diantara amalan seorang Muslim yang akan mendapatkan ganjaran pahala lebih utama daripada orang mengerjakan amalan tersebut, adalah amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan beramalan secara sembunyi-sembunyi daripada mengerjakan amalan secara terang-terangan. Hal ini karena menjadi sebab seseorang mengerjakan amalan secara ikhlas, menjauhi dari riya’ (ingin dilihat orang) dan sum’ah (ingin didengar orang), serta sikap menjauhi pujian dari orang lain.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha-teliti apa yang kamu kerjakan.” [Qs. Al-Baqarah: 271]

    Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Jika kalian menampakan shadaqah kalian maka itu adalah baik sekali berarti jika kalian menampakkannya, maka itulah harta yang paling baik. Sedangkan firman-Nya, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang kafir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian, terkandung dalil bahwa menyembunyikan shadaqah lebih baik daripada menampakkannya, karena hal itu lebih jauh dari riya. Kecuali apabila memang menampakkan shadaqah itu mendatangkan kemaslaha tan, sperti agar orang-orang mengikuti jejaknya. Sehingga menampakkannya lebih baik daripada menyembunyikannnya.

    Pujian dan sanjungan manusia memang terasa cukup manis, tapi ikhlas yang sesungguhnya akan lebih lezat, bagi hamba yang sebenar memilikinya.

    Jika ikhlas itu sebutir biji yang lezat, sangat beruntunglah orang yang diberi anugerah untuk menikmatinya. Namun jika ia menanamnya agar tumbuh, dan kelak banyak orang yang bisa ikut menikmatinya, kelezatan yang terlewatkannya tak akan sirna, bahkan akan didapatinya lebih.

    Menampakkan dan menyembunyikan suatu amal tetaplah suatu pilihan. Menyembunyikannya, agar sempurna kemesraan seorang hamba dengan Rabbnya, berdua semata. Atau menampakkannya, untuk memotivasi orang lain melakukan kebaikan serupa, mengenalkan kebaikan dakwah, memikat hati para mualaf, akhirnya menjadi kemaslahatan bagi umat. Dari keterpaksaan bisa menjadi sebuah latihan. Lantas kemesraan seorang hamba yang melakukannya tak akan terganggu oleh faedah-faedah yang menyertainya.

    Ikhlas yang sejati, tak tergerus oleh sanjungan, tak kusam oleh cacian, ia akan tetap utuh dalam kesendirian maupun keramaian. Dalam persembunyiannya, ia terhindar dari ujub, dalam penampakannya ia terbebas dari riya. Pada keduanya ia tetap merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya.

    Hati yang jernih yang bisa dengan tepat menentukan kapan suatu amal disembunyikan atau ditampakkan, mana yang lebih besar kemaslahatan bagi dirinya, sesamanya, syiar Islam dan dakwah. Mesti melewati berbagai batu ujian, karena darinya akan didapat tambahan kemuliaan. Tak semua ditampakkan, tak seluruhnya disembunyikan, agar semua sisi hati terasah dengan sempurna, semua bagian-bagiannya terawat sempurna. Karunia terbaik itu berupa kepahaman menentukan kadar yang tepat dalam situasi dan kondisi yang beragam.

    Kesempurnaan dinul Islam, menyeluruh pada semua aspek kehidupan manusia. Di antara amal-amal yang lebih utama ditampakkan atau disembunyikan, terdapat hikmah yang baik bagi manusia dengan berbagai tabiatnya, sesuai dengan fitrah ketika ia tercipta. Baik ketika ia sendiri atau dalam jamaah, syariat senantiasa hadir, tanpa menyisakan kekosongan sedikitpun dalam luasnya relung Islam. Dzikir seorang hamba, qiyamul lail, dan munajatnya adalah contoh suatu amal yang lebih lezat dihidangkan ketika dalam kesendirian. Sedang zakat, dan shalat fardhu sempurna kelezatannya bersama jamaah.

    Dalam sebuah hadits yang panjang, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan sembilan perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya). Tuhanku berwasiat: agar aku berlaku ikhlas, baik secara tersembunyi atau terang-terangan….”

    Ikhlas adalah sebuah perkara yang besar dan harus ada di setiap amal agar amalnya di terima oleh Allah SWT. Apakah itu di lakukan secara sembunyi sembunyi, ataukah secara terang terangan. Walaupun amal yang di lakukan secara sembunyi sembunyi akan lebih selamat. Tapi, jika ia dilakukan dengan terang terangan, dia akan bisa menjadi tauladan bagi orang lain.

    Jadi teruslah beramal tanpa memedulikan kesendirian dan keramaian, sanjungan dan cacian. Jika ada rasa takut ikhlas itu sirna dan hilang, ia akan kembali jua. Tampakkan ketika tampak lebih bermaslahat, sembunyikan jika sebaliknya. Namun pundi-pundi keduanya mesti tetap terisi untuk kesempurnaan nutrisi jiwa, baik yang menjadi simpanan, maupun yang berfaedah untuk mengangkat sesama.

Sumber : dakwatuna.com
 

Nikmatilah SHALATMU...!!!


 "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´" 
(QS: Al-Baqarah Ayat: 45)

Ketika adzan mulai berkumandang, tidak sedikit dari umat Islam yang langsung bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Shalat yang merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, shalat yang dalam agama Islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadah lainnya. Shalat merupakan tiang agama, di mana seorang Muslim tidak dapat berdiri kokoh melainkan dengannya.

Akan tetapi, apakah shalat yang selama ini kita lakukan benar-benar merupakan ibadah yang dilakukan secara khusyuk semata-mata karena mengharap ridha Allah? Ataukah hanya sekedar ritual harian belaka yang dalam mengerjakannya kita masih memikirkan hal-hal yang berbau duniawi yang pada akhirnya hanyalah menjadikan shalat sebagai kebiasaan rutinitas saja. Padahal esensi diwajibkannya shalat adalah untuk mengingat Allah dan menjaga diri dari kemungkaran. Sebagaimana dikatakan dalam Alqur’an: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Q.S. Thaahaa [20]: 110) dan … Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar … (Q.S. al-Ankabuut [29]: 45).

Kedua hal tersebut hanyalah bisa didapatkan jika seseorang mampu memahami sekaligus merasakan makna spiritual shalat, biasanya pengetahuan fitrah dalam jiwa dan hatinya akan tersingkap (al-kasyf), sehingga memunculkan gerak kesadaran diri antara hamba dengan Sang Pencipta. Penyingkapan ini akan memungkinkan setiap hamba merasakan satu kenikmatan dalam kesadaran dirinya. Artinya, ia akan menemukan konsep spiritual yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bisa menyucikan dirinya dari segala kotoran dosa dalam hatinya. Shalat dengan khusyuk tidaklah sulit untuk dikerjakan, akan tetapi yang sulit adalah menguatkan niat dalam hati kita untuk melaksanakan shalat dengan khusyuk.

 Menikmati Shalat..

Kekhusyukan dalam shalat, yang terpenting bukan bagaimana cara kita bisa menangis sesenggukan, melainkan bagaimana caranya agar dengan shalat kita bisa merombak semua perilaku kita sehingga kehidupan kita jauh dari sifat-sifat yang tidak terpuji.

Lantas bagaimana agar shalat kita dapat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari? Untuk membuat khusyu dalam shalat, maka nikmatilah shalatmu. Jika seseorang belum dapat menikmati shalat, maka dapat dimungkinkan shalat yang dia lakukan belum masuk dalam tingkatan sempurna atau lebih tegasnya, shalatnya masih berupa gerakan-gerakan tubuh yang tidak mempunyai makna spiritual. Dalam sebuah ayat :
“Maka, celaka bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. Al-Maa’uun [107]: 4-6).

Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Dia lalai tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakannya oleh sendi anggotanya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lengah, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot. Ya Allah ampunilah kami dan jauhkan lah kami dari perkara seperti ini.

 Ini perkara sederhana. Tapi, ini perkara yang cukup banyak melalaikan sebagian orang. Ini perkara penjerumusan modern. Shalat adalah ibadah utama bagi umat islam dan shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal yang tidak bisa ditawar sekalipun kita penawar paling handal. Apakah shalat tepat waktu memberatkanmu? Pertanyaan yang akan membuat sebagian besar orang berfikir dua kali untuk menjawabnya dengan jawaban yang pantas. 

Kalo kita anggap mengerjakan shalat itu hanya sebagai penggugur kewajiban, maka kita akan terburu-buru mengerjakannya. Kalo kita anggap shalat hanya sebuah kewajiban, maka kita tak akan menikmati hadirnya Allah saat kita mengerjakannya.

Coba kita anggap shalat itu sebagai pertemuan yang kita nanti dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Anggaplah shalat itu sebagai cara terbaik tuk bercerita dengan Tuhan kita. Coba shalat itu sebagai kondisi terbaik tuk kita berkeluh kesah dengan Allah. Dan anggaplah shalat itu sebagai tanda seriusnya kita dalam bermimpi.

Bayangkanlah ketika azan berkumandang, tangannya Allah melambai-lambai didepanmu tuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya. Bayangkan ketika kau takbir, Allah melihatmu, Allah senyum untukmu, dan Allah bangga terhadapmu. Bayangkan ketika rukuk, Allah yang menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya. Bayangkan ketika sujud, Allah mengelus kepalamu, lalu Dia berbisik lembut dikedua telingamu “Aku mencintaimu hambaku.” Bayangkan pula ketika kau duduk diantara dua sujud, Allah berdiri gagah didepanmu, lalu mengatakan “Aku tak akan diam bila ada yang mengusikmu.” Bayangkan ketika kau salam, Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati damai setelah itu. Allahhu Akbar…

Dari sana kau tak akan terburu-buru dalam shalatmu. Kau selalu tak sabar dipertemukan dalam shalat setelah kau mengerjakan shalat. Dari sana kau akan selalu rindu. Kau akan tak rela bila langsung meninggalkan tempat sujudmu

Oya… kita tak akan pernah bisa merasakan keindahan dan kenikmatan sholat itu andai kita  masih mengiyakan pacaran. Kita pun tak akan pernah menjumpai sholat yang menenangkan bila kita masih menjalani zina dan maksiat. Nanti ketika kita telah melepaskan semua itu, jangankan sholat yang tenang, baru azan saja kita bisa menangis. Karena kita merasa pada saat itu Allah telah menantimu, Allah telah siap menyelesaikan semua perkara dalam hidupmu.

Nikmatilah sholatmu. Jangan terburu-buru, jangan pula pada sisa waktu. Spesialkan waktu untuk sholatmu, agar kau dispesialkan oleh Tuhanmu.

Untuk lebih mengingatkan kita akan pentingnya shalat maka tidak ada salahnya apabila kita renungkan baik-baik hadits Rasullullah SAW berikut sebagai motivasi dalam menjalankan ibadah shalat. “Awal amal yang dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Jika ia baik, baiklah seluruh amalnya. Sebaliknya jika jelek, jeleklah pula semua amalnya.” (HR Thabrani).

sumber :
alrasikh.uii.ac.id
akifghifari.weebly.com
 

Belajarlah IKHLAS meski Sulit...,

Ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas).Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.
 
Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena  Allah SWT.

 Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.
 
Keutamaan Ikhlas, Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu anhu  meriwayatkan bahwa pada waktu Haji wada', Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

Semoga Allah mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal kepada Allah, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin dan selalu bergabung dengan jamaah mereka.”
 (HR. Al-Bazzar dengan isnad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

     Hadist diatas memberi pengarahan bahwa ketiga hal diatas dapat memperbaiki hati (menjauhkan dari sifat dengki). Barangsiapa menjadikan ketiganya sebagai akhlak, pasti hatinya akan bersih dari khianat maupun kerusakan.

   Seorang hamba hanya akan akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah subhanallah  wa ta'ala berfirman,  mengungkapkan pernyataan iblis,

"Kecuali hamba-hamba Mu yang selalu ikhlas" (Shad:83).

Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi yang disenangi diri dan hati manusia sedikit ataupun banyak maka kejernihan amal itu sendiri telah tercemari. Hilanglah pula keikhlasannya. Sulitnya ikhlas dalam setiap amalan atau ibadah digambarkan oleh sebuah pepatah,

"Barang siapa yang sesaat dari umurnya telah dengan ikhlas, hanya mengharap wajah  Allah, pasti ia akan selamat".
 
Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya.

Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).
 
Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.
 
Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.
 
Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.
 
Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).
 
Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.
 
Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”





Sumber : republika.co.id
 

COBAAN... Dalam Sudut Pandang Islam

Hidup adalah perjuangan”, istilah itulah yang mungkin paling tepat untuk mendeskripsikan makna dari sebuah kehidupan. Maka setiap manusia yagn hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Jika seorang manusia ingin hidup tanpa mau berjuang, maka sama saja ia sedang mengharapkan sebuah kematian untuk menjemputnya.
 
Di dalam ajaran Islam, Allah swt mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia yang tidak mau beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup. Ibadah kepada Allah swt, itulah perjuangan hidup yang diajarkan di dalam Islam. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan. Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang, karena Islam mengajarkan bahwa Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu sendirilah yang harus berjuang untuk merubahnya. Sama saja dengan seorang karyawan yang direkrut untuk bekerja, kalau dia tidak mau bekerja maka berhenti saja menjadi karyawan. Satu hal yang identik dengan perjuangan adalah adanya cobaan. Cobaan adalah salah satu bagian dari setiap perjuangan yang tidak dapat dihindarkan, pasti dialami dan dirasakan oleh setiap manusia dalam perjalanan hidup. Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia yang merasa sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah swt. Bahkan ada pula yang nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan dengan cobaan yang tengah dialaminya.
 
Umat muslim tidak pantas bersikap demikian. Putus asa dan terjebak dalam duka yang tak berkesudahan bukanlah sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa optimis dan berpikiran positif. Berbaik sangka kepada yang telah memberikan cobaan, yaitu Allah swt adalah jalan terbaik yang diajarkan oleh Islam. Karena sesungguhnya Allah swt akan menjawah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika hambanya berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan diterimanya.

Namun, jika hambanya senantiasa berbaik sangka maka Allah swt pun akan memberikan kebaikan kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt di dalam sebuah hadits qudsi yang artinya: “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).Islam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang telah diciptakan di dunia ini melainkan pasti ada manfaatnya. Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia, dan tidak ada pula yang diciptakan tanpa tujuan. Allah swt telah memperhitungkannya dengan sangat sempurna. Bahkan Islam mengajarkan bahwa setiap cobaan itu merupakan salah satu bentuk pembersih dari dosa-dosa yang telah diperbuat, cobaan merupakan tanda cinta dari Allah swt. Semakin Allah swt mencintai seorang hamba maka semakin banyak cobaan yang akan diberikan-Nya. Hal itu tidak lain hanyalah untuk semakin meningkatkan rasa cinta dan kedekatan umatnya kepada-Nya.
 
Islam memandang cobaan sebagai suatu pelajaran yang bernilai positif, bukan sebagai satu hal yang negatif. Begitulah kacamata Islam, selalu mengajarkan untuk melihat dengan kacamata positif. Cobaan merupakan gudang hikmah yang sangat berharga. Banyak hikmah yang dapat dipetik melalui sebuah cobaan, di antaranya adalah: Cobaan adalah Pembersih Dalam kacamata Islam, cobaan yang menimpa seorang muslim sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Karena, dengan cobaan itulah Allah swt akan membersihkan seseorang dari dosa-dosanya yang telah overload. Kalau dosa-dosa tersebut tidak dibersihkan, tentu saja akan mencelakakan manusia tersebut. Pembersihan dilakukan oleh Allah swt untuk mengurangi siksa Allah swt yang pedih di akhirat kelak.
 
Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR. At Tirmidzi
 
Penyempurna Keimanan Dalam ajaran Islam, cobaan merupakan salah satu media yang dapat menyempurnakan keimanan seseorang. Karena, kesempurnaan iman dapat dilihat dari keitiqomahannya untuk tetap taat kepada Allah swt baik dalam keadaan senang maupun susah.Rasulullah saw bersabda mengenai bagaimanakah sifat seorang muslim yang sebenarnya, yang artinya: “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
 
Mengingatkan Umatnya Islam juga menganggap cobaan sebagai alarm pengingat pesan bagi seluruh umatnya. Dengan cobaan itulah, Allah swt senantiasa mengingatkan manusia bahwa mereka itu adalah makhluk yang lemah, tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendak Allah swt. Tidak ada yang patut dibanggakan atau disombongkan.Rasulullah saw telah berfirman yang artinya: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari no. 6053) Hadits di atas jelas sekali mengingatkan umat Islam bahwa hidup ini hanyalah ibarat sebuah perjalanan, yang suatu saat pasti akan berakhir atau mencapai tempat tujuannya, yaitu kampung akhirat. Dengan adanya cobaan, maka umat muslim akan senantiasa diingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kuat dan tidak ada pula yang abadi.

Semua akan kembali kepada Allah swt.


madinahsyariahsupermarket.blogspot.com
 

Merenungkan Sebab Berbagai Bencana di Bumi


Berbagai kebaikan di muka bumi itu karena sebab mentauhidkan Allah dan beribadah pada-Nya. Sedangkan berbagai musibah dan bencana yang datang itu karena sebab perbuatan syirik dan maksiat. 

Inilah yang patut direnungkan ketika kita mendapati musibah yang menimpa diri kita, menimpa keluarga bahkan bangsa kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, 

“Barangsiapa yang merenungkan kejadian-kejadian di muka bumi, maka akan didapati bahwa setiap kebaikan yang ada di bumi itu disebabkan karena mentauhidkan Allah dan ibadah pada-Nya, serta taat pada Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sedangkan segala kejelekan di muka bumi, fitnah (musibah), bencana, kekeringan dan ditindas oleh musuh, itu disebabkan karena menyelisihi perintah Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menduakan Allah dalam ibadah (syirik). Barangsiapa yang benar-benar merenungi hal ini, maka akan ia dapati bahwa hal ini bisa terjadi pada diri kita secara khusus, yang lainnya secara umum dan khusus. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” (Majmu’ Al Fatawa, 15: 25) 

Moga menjadi bahan introspeksi diri … 
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki akidah kita dan menyelamatkan kita dari berbagai musibah. Aamiin, Yaa Mujibas Saa-ilin.



http://abdurrohmandotcom.wordpress.com
 

KEUTAMAAN PUASA ‘ASYURA

Mungkin bulan-bulan yang sering kita dengar adalah bulan-bulan pada penanggalan kalender masehi. Namun sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui bulan-bulan yang ada pada penanggalan kalender hijriyah. Dan di dalam kalender hijriyah, terdapat empat bulan yang disebut bulan-bulan haram.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram…” (QS. At-Taubah: 36).
Adapun bulan-bulan yang telah Allah tetapkan sebagai bulan haram (bulan yang dimuliakan, ed) adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram.
Insyaa Allah pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu amalan yang agung, yang terdapat di dalam salah satu di antara bulan-bulan yang haram. Amalan tersebut adalah Puasa ‘Asyura yang jatuh pada tanggal sepuluh di bulan Muharram.


Keutamaan Amalan Puasa

Sebelum membahas keutamaan Puasa ‘Asyura, sungguh puasa itu sendiri adalah amalan yang Allah sendiri akan membalasnya, dan dilipatkan gandakan tanpa batas pahalanya.
Bacalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yang artinya), “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan di lipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim)

Kemudian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yang artinya), “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Setelah membaca hadits-hadits Nabi secara umum tentang keutamaan orang yang berpuasa, di dalam bulan Muharram terdapat anjuran secara khusus untuk berpuasa pada Hari ‘Asyura.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan di dalam bulan Muharram terdapat anjuran untuk berpuasa di Hari ‘Asyura.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Kemudian terdapat suatu hadits yang menceritakan bahwa seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang pahala puasa hari ‘asyura. Maka Rasulullah menjawab: Aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Hukum Puasa ‘Ayura

Shahabat ‘Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan Puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan hal tersebut- yakni berhenti mewajibkan mereka mengerjakan dan hukumnya menjadi mustahab (sunnah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian perkataan shahabat Mu’awiyyah Radhiyallahu ‘anhu, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hari ini adalah hari ‘Asyura. Allah tidak mewajibkan atas kalian berpuasa padanya, tetapi aku berpuasa, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah. Dan barangsiapa yang ingin berbuka (tidak berpuasa), maka berbukalah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari kedua hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum bepuasa pada Hari ‘Asyura adalah mustahab (dianjurkan), yang sebelumnya adalah wajib. Tatkala disyariatkan Puasa Ramadhan, maka hukum Puasa ‘Asyura menjadi Sunnah

Menambah Puasa pada Tanggal Sembilan Muharram

Dianjurkan untuk menambah Puasa ‘Asyura pada tanggal sembilan Muharram, dalam rangka menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. ‘Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan puasa hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, kemudian pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara.” Lantas Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insyaa Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” ‘Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim)

Semangat Dalam Mengerjakan Amalan Sunnah

Meskipun hukum melaksanakan Puasa ‘Asyura adalah dianjurkan, hendaknya seorang muslim tetap semangat dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah. Karena hal ini menjadi salah satu sebab Allah akan mencintainya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya…” (HR. Al-Bukhari)

Dalam shahihain, dari ‘Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau pernah ditanya tentang hari ‘Asyura, maka beliau menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam begitu menjaga keutamaan satu hari diatas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (maksudnya, hari ‘Asyura) dan bulan yang ini (maksudnya, bulan Ramadhan).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri sangat bersemangat dalam menjaga amalan Puasa ‘Asyura. Dan kita sebagai seseorang yang mengaku mencintai Nabi, hendaknya kita mencontoh amalan-amalan yang dilakukan oleh Beliau, meskipun dalam perkara yang bukan wajib. Semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan salah satu syariat-Nya, dan semoga Allah menerima amalan kita.
 
 
Sumber : http://buletin.muslim.or.id
 

Keutamaan Puasa Hari Arafah, Hari sebelum Idul Adha


Hari ‘Arafah ialah hari sembilan Zulhijjah. Ia adalah hari terbaik sepanjang tahun kerana Nabi s.a.w. bersabda; “Tidak ada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambanya pada hari tersebut dari neraka dari hari ‘Arafah” (Riwayat Imam Muslim).

Adapun disunatkan berpuasa pada hari tersebut, dalilnya ialah; hadis dari Abu Qatadah r.a. yang menceritakan; Nabi s.a.w. ditanya tentang puasa hari ’Arafah. Baginda bersabda; “(Puasa hari itu) dapat menghapus dosa tahun lalu dan yang akan datang” (Riwayat Imam Muslim).



Keutamaan Hari Arafah

Hari Arafah merupakan hari yang mempunyai kelebihan tersendiri. Jika para jemaah haji diwajibkan berada di padang Arafah untuk wuquf di sana, kita yang tidak berkesempatan untuk menunaikan haji dianjurkan untuk berpuasa pada hari ini. Kedatangannya setahun sekali ini janganlah disia-siakan. Kita juga dianjurkan untuk berzikir dan berdoa kepada Allah pada hari ini. Di sini dipetik beberapa buah hadis untuk renungan kita bersama.

Adapun tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah didasarkan pada hadits berikut ini:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

Daripada Abi Qatadah al-Ansari bahawa Rasulullah S.A.W telah ditanya mengenai puasa hari Arafah? maka jawab Rasulullah S.A.W yang artinya : Dikaffarah(ampun dosa) setahun lalu dan setahun akan datang.

Selain itu, memang pada hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ

Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari)

Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan bagi yang tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa Ramadhan.
Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. :

يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ

Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.

Puasa Arafah Sunah bagi yang tidak melaksankan Ibadah Haji

Puasa hari ‘Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Dzulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Kelebihan berpuasa pada hari ini ialah ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, sebagaimana hadith yang telah diriwayatkan daripada Abu Qatadah al-Anshari ra:

Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari ‘Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)
Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:

Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari ‘Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di ‘Arafah lantas Baginda meminumnya. (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Juga daripada hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari ‘Arafah bagi mereka yang berada di ‘Arafah. (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah rha) [al-Imam as-Syaf’ie rh berpendapat; “Disunatkan puasa pada hari ‘Arafah bg mereka yang tidak mengerjakan ibadah haji. Adapun bg yang mengerjakan ibadah haji, adalah lebih baik untuknya berbuka agar ia kuat berdoa di ‘Arafah.” Dari pendapat Imam Ahmad rh pula; “Jika ia sanggup berpuasa maka boleh berpuasa, tetapi jika tidak hendaklah ia berbuka, sbb hari ‘Arafah memerlukan kekuatan (tenaga).” Begitu juga dengan para sahabat yang lain, lebih ramai yang cenderung untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah ketika mengerjakan ibadah haji]

Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Dzulhijjah di samping berpuasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Dzulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Dzulhijjah (Hari ‘Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari, iaitu dari hari yang pertama bulan Dzulhijjah hingga ke hari yang kelapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari ‘Arafah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra: Rasulullah SAW bersabda: “Tiada amal yang soleh yang dilakukan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bln Dzulhijjah).” (Hadith Riwayat al-Bukhari)

Dalam hadith yang lain yang diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari beberapa isteri Nabi SAW: Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, di hari ‘Asyura dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya. (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’ie)

Adapun berpuasa pada hari Aidiladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadith yang diriwayatkan dari Umar ra:
Bahawasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, iaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)

Serta hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan) [Ulama Syafi’iyyah membenarkan untuk berpuasa pada hari tasyrik hanya untuk keadaan tertentu seperti bersumpah, qadha puasa di bulan Ramadhan serta puasa kifarah (denda). Puasa tanpa sebab tertentu pada hari-hari ini (puasa sunat) adalah ditegah.


Sumber : http://www.allaahumma.com
 

Perintah Shaum (Puasa) Ramadhan

Ibnul Qayyim mengatakan dalam Zadul Ma’ad, bahwa difardhukannya shaum Ramadhan melalui tiga tahapan :
1.      Kewajibnya yang bersifat takhyir (pilihan).
2.      Kewajiban  secara Qath’i (mutlak), akan tetapi jika seorang yang shaum  kemudian tertidur sebelum berbuka maka diharamkan baginya makan dan minum sampai hari berikutnya.
3.      Tahapan terakhir, yaitu yang berlangsung sekarang dan berlaku sampai hari kiamat sebagai nasikh (penghapus) hukum sebelumnya.()
Tahapan awal berdasarkan firman Allah I :
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ( البقرة: ١٨٤)
Artinya :
” Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka membayar fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu maka itulah yang lebih baik baginya dan jika kalian melakukan  shaum maka hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.”  [Surat Al-Baqarah 184]

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir :
“Adapun orang yang sehat dan mukim (tidak musafir-pen) serta mampu menjalankan ash-shaum diberikan pilihan antara menunaikan ash-shaum atau membayar fidyah. Jika mau maka dia bershaum dan bila tidak maka dia membayar fidyah yaitu dengan memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin. Kalau dia memberi lebih dari satu orang maka ini adalah lebih baik baginya.”()
Ibnu ‘Umar [L] ketika membaca ayat ini فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ  mengatakan : “bahwa ayat ini mansukh (dihapus hukumnya-pen)”.()

Dan atsar dari Salamah ibnu Al-Akwa’ tatkala turunnya ayat ini berkata :
“Barangsiapa hendak bershaum maka silakan bershaum dan jika tidak maka silakan berbuka dengan membayar fidyah. Kemudian  turunlah  ayat  yang berikutnya yang memansukhkan (menghapuskan) hukum tersebut di atas.” ()
Secara dhahir, ayat ini وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ  mansukh (dihapus) hukumnya dengan ayat  فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ sebagaimana pendapat jumhur ulama ().
Tetapi dalam sebuah atsar Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata :
“Ayat ini bukanlah mansukh melainkan rukhshoh (keringanan) bagi orang tua (laki-laki maupun perempuan) yang lemah supaya memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.” ()
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir :
“Kesimpulan bahwa mansukhnya ayat ini وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ adalah benar yaitu khusus bagi orang yang sehat lagi mukim dengan diwajibkannya ash-shaum atasnya. Berdasarkan firman Allah فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه Adapun orang tua yang lemah dan tidak mampu bershaum maka wajib baginya untuk berifthor (berbuka) dan tidak ada qadha` baginya”.()

Dan inilah tahapan kedua. Tetapi jika seseorang bershaum kemudian tertidur di malam harinya sebelum berbuka maka diharamkan baginya makan, minum dan jima’ sampai hari berikutnya.
Tahapan ini kemudian mansukh (dihapuskan) hukumnya berlandaskan hadits Al Barra’ t:
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ  rإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ اْلإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِي كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ اْلإِفْطَارُ أَتَى اِمْرَأَتَه فَقَالَ لَهَا : أَعِنْدَكِ طَعَامٌ ؟ قَالَتْ : لاَ لكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ – وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ- فَجَاءَتْ اِمْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ : خَيْبَةً لَكَ !  فَلَمَّا اِنْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِي  rفَنَزَلَتْ هَذِهِ اْلأَيَةُ :  )أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ( فَفَرِحُوا بِهَا فَرْحًا شَدِيْدًا فَنَزَلَتْ )وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ( [رواه البخاري  وأبو داود]
Artinya :
“Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  jika salah seorang di antara mereka shaum kemudian tertidur sebelum dia berifthar (berbuka) maka dia tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu berbuka lagi. Dan (salah seorang shahabat yaitu), Qois bin Shirmah Al Anshory dalam keadaan shaum, tatkala tiba waktu berbuka, datang kepada istrinya dan berkata : apakah kamu punya makanan ? Istrinya menjawab : “Tidak, tapi akan kucarikan untukmu (makanan).” – dan Qois pada siang harinya bekerja berat sehingga tertidur (karena kepayahan)-  Ketika istrinya datang dan melihatnya (tertidur) ia berkata : ” Rugilah Engkau (yakni tidak bisa makan dan minum dikarenakan tidur sebelum berbuka- pen) !” Maka ia pingsan di tengah harinya. Dan ketika dikabarkan tentang kejadian tersebut kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat :
)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ(
“Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima’ (menggauli) istri-istri kalian.”
dan para shahabat pun berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :
)وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ(
“Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
[HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud] ()


Sumber : http://elfaruq.wordpress.com/2009/08/15/sejarah-turunnya-perintah-shaum-puasa-ramadhan/

 

Jilbab Syar’i = Jilbab Paling Modis Sepanjang Zaman


“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab: 59)

Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modis adalah mengikuti mode; yang berpakaian sesuai dengan mode yang paling baru. Maka, yang perlu dipertanyakan adalah, apakah perintah menggunakan jilbab di Al-Qu’ran itu kuno sehingga perlu diperbaharui, dimodifikasi dan dikembangkan mengikuti zaman? Mari kita renungkan. Lalu, kenapa tidak kita ubah paradigma kita bahwa sesungguhnya Jilbab Syar’i itu lah jilbab yang paling modis sepanjang jaman. Sehingga kita bisa menjadi trendsetter bahwa jilbab syar’i tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak akan terkikis oleh zaman.

Lalu bagaimana caranya menjadi trendsetter jilbab yang super modis tersebut? Tentunya kita harus paham terlebih dahulu bagaimana cara memakai jilbab yang sesuai dengan tuntutan Islam. Yuk kita cek dari atas sampai bawah:

1. Menutup dan melindungi seluruh tubuh, selain yang dikecualikan, yaitu muka dan telapak tangan.
“Hai Asma’, sesungguhnya wanita, apabila telah sampai tanda kedewasaan (haidh), tidak boleh terlihat bagian tubuhnya, kecuali ini dan ini (Beliau mengisyaratkan muka dan telapak tangannya).” (H.R Abu Daud, Al-Albani menghasankannya)

2. Hindari tabarruj
Tabarruj adalah berhias dengan memperlihatkan kecantikan dan menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah.
“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliah terdahulu…” (Al-Ahzab: 33)
Saudariku, tidak perlu make up yang mahal untuk cantik. Percantik diri kita dengan dandanan iman, agar kita terlihat cantik, memesonda dan mulia di hadapan-Nya. Percantiklah diri kita dengan akhlaq. Muliakan diri kita dengan tidak berlebihan dalam berhias, karena kita bukanlah pameran berjalan.

3. Tanpa punuk unta
“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (H.R Muslim)

4. Kain kerudung menutup dada
“…janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,..” (An-Nur 31)

5. Kainnya harus lapang dan tidak sempit
“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” –H.R Muslim

Yang dijelaskan pada hadits di atas adalah tentang wanita-wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya. Oleh karena itu, pemakaian jilbab haruslah longgar sehingga tidak membentuk tubuh muslimah yang mengenakannya.

6. Tidak memperlihatkan sedikit pun bagian kaki wanita
Kaki kan juga aurat, maka mari afdhal-kan pakaian taqwa kita dengan memakai kaos kaki.

7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
“Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (H.R Ahmad, Abu Daud, Al Hakim, dan Ibnu Majah)

8. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir
“..Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka..” (H.R Ahmad dan Abu Daud)

Jilbab adalah salah satu bentuk betapa Islam begitu menjaga dan memuliakan wanitanya. Semua fashion lengkap diatur di dalam Al-Qur’an dan Hadits, tanpa perlu dimodifikasi lagi (dengan berusaha mengenakan jilbab syar’i, maka ridha Allah pun senantiasa menyertai, hingga kita raih kecantikan yang hakiki).

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf: 26)

 
 
Modified : Modified Template By : | Bina Pratama |
Copyright © 2013. Yayasan Bina Pratama Boyolali - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger